Aku hanya seorang kurcaci

Fitur Bahasa Indonesia reguler kami bekerja sama dengan TCK Learning Centre untuk Pekerja Migran (Our regular Indonesian feature in collaboration with TCK Learning Centre for Migrant Workers)

A woman sitting on the floor in a dimly lit room, writing in a notebook by candlelight. A large moon is visible through the window, and a clock shows the time.

Di pojok ruangan yang penuh dengan berbagai macam barang, aku duduk. Bibirku kelu, dadaku terasa sesak sekali. Bukan karena melihat ruangan yang padat penuh barang, tapi karena sesuatu yang mengganjal membuat dadaku sesak. Pikiranku kosong memandangi lampu di luar yang indah, tapi lama kelamaan pemandangan itu semakin kabur — bukan karena mataku yang rabun, tapi karena air mataku yang mengalir begitu saja. Rasanya tak ada yang tidak membuatku menangis. Perjalanan ini sangat melelahkan. Bahkan menulis tentang kekacauan ini pun membuat hati dan pikiranku kesakitan. Namun, aku akan terus menulis. Menulis tetap menjadi teman baikku, saat tak ada orang yang mendengarkan keluhanku.

Jarum jam yang berdetak lambat menunjuk ke jam 7 malam. Di sudut ruangan ini yang telah menjadi saksi bisu bertahun-tahun lamanya, semuanya tampak begitu kosong. Mataku selalu basah. Kritik yang tajam!  Kritik itu masih sangat menggema di telingaku dan menghancurkan hatiku. Orang- orang yang aku anggap benar-benar baik dan mendukungku, tapi ternyata orang yang paling tidak suka denganku dan dengan apa yang aku lakukan!

Mengapa aku selalu dianggap salah?

Mengapa aku selalu dijadikan bantal empuk untuk disalahkan?

Apakah mengeluh tentang rasa sakit adalah dosa?

Apakah aku tidak boleh mengeluh?

Aku terdiam tak berdaya; hanya air mata yang masih menemaniku. Aku tak pernah menemukan kata-kata hangat sebagai penghibur jiwa yang lara. Sudah berapa puluh bulan purnama demi bulan purnama, aku menyimpan semuanya. Tak seorang pun tahu selain abjad-abjad ini — aku hanya bisa merasakan bahwa tak seorang pun benar-benar peduli padaku. Mereka hanya suka dengan bantuanku, bukan kesakitanku ini.

Apakah orang-orang tahu?

Hujan dan panas selama ini tidak menjadi penghalang bagiku untuk datang. Bajuku sering basah dan membuatku masuk angin yang tidak aku rasa karena aku bertanggung jawab pada pekerjaanku. Kakiku berdarah karena banyak jalan, lari sana lari sini ketika banyak kegiatan yang harus dihadiri. Bahkan duduk dan tidur pun terasa menyakitkan karena otakku terus perang memikirkan setiap rencana untuk ke depannya. Aku menahan rasa haus dan lapar karena terlalu sibuk untuk memastikan kegiatan berjalan dengan lancar dan melayani semua orang yang hadir. Pekerjaan ini bukanlah impianku, menjadi volunteer yang tidak dapat bayaran sama sekali. Aku kira usaha tidak akan menghianati hasil, tapi kenyataan lain.

Sekarang aku terjebak di dalamnya: aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mencoba memperbaiki keadaan, menyelesaikan semuanya. Mengapa? Hanya karena pengabdian, aku berjuang mati-matian. Betapa menyedihkannya keadaanku. Semua usaha dan perjuanganku itu, jangankan mendapat apresiasi, dilihatpun tidak. Tidak berarti apa-apa! Bahkan ketika aku berusaha speak up akan ketidakadilan ini, apa yang aku dapat di-bully, dicemooh, dihina, dikatain habis-habisan.

Di tengah keramaian, aku berdiri sendirian

Membawa harapan, namun diabaikan

Suara-suara sumbang memenuhi langit

Mengkritik langkahku, meremehkan cita-citaku.

Dengan sepenuh hati aku berjuang,

Membangun jembatan antara jiwa dan raga

Namun kata-kata tajam bagai belati

Menusuk dalam-dalam, menggoyahkan imanku.

Dari sudut gelap, fitnah bertebaran

Seolah kebaikan adalah dosa yang terlarang

Mereka yang tak mengerti menghakimi dengan sebelah mata 

Menghujat tanpa tahu betapa sakitnya perasaan ini

Akulah cahaya yang mencoba bersinar 

Namun bayang-bayang mencuri cahaya itu

Dalam setiap tawa yang penuh kepalsuan 

Ada luka yang terpendam didalam hati ini.

Rasa sakit ini tak akan hilang begitu saja 

Namun aku tetap berdiri meski terjatuh dan tersungkur

Karena dalam setiap air mata 

Ada kekuatan yang takkan pernah pudar.

Meski dunia mungkin tak menghargainya 

Aku akan terus berjuang tanpa henti

Karena di balik segala celaan dan hinaan 

Ada harapan baru yang menanti di ujung jalan.

Aku akui, aku hanya seorang kurcaci; seberapa pun aku berusaha bersuara, tidak akan pernah di dengar. Tetapi, setidaknya aku sudah berusaha melakukan sesuatu untuk diriku sendiri, tidak hanya terdiam saja tanpa usaha apa pun meskipun hasilnya masih kosong. Mungkin Tuhan mempersiapkan sesuatu yang lebih baik dari ini, di tempat lain. 

Find out more:

Leave a Reply

Author

tcklearningcentre avatar

Written by

Trending