
Written by Arunkia Sooky, Edited by Lie Fhung
Di pojok ruangan yang penuh dengan berbagai macam barang, aku duduk. Bibirku kelu, dadaku terasa sesak sekali. Bukan karena melihat ruangan yang padat penuh barang, tapi karena sesuatu yang mengganjal membuat dadaku sesak. Pikiranku kosong memandangi lampu di luar yang indah, tapi lama kelamaan pemandangan itu semakin kabur — bukan karena mataku yang rabun, tapi karena air mataku yang mengalir begitu saja. Rasanya tak ada yang tidak membuatku menangis. Perjalanan ini sangat melelahkan. Bahkan menulis tentang kekacauan ini pun membuat hati dan pikiranku kesakitan. Namun, aku akan terus menulis. Menulis tetap menjadi teman baikku, saat tak ada orang yang mendengarkan keluhanku.
Jarum jam yang berdetak lambat menunjuk ke jam 7 malam. Di sudut ruangan ini yang telah menjadi saksi bisu bertahun-tahun lamanya, semuanya tampak begitu kosong. Mataku selalu basah. Kritik yang tajam! Kritik itu masih sangat menggema di telingaku dan menghancurkan hatiku. Orang- orang yang aku anggap benar-benar baik dan mendukungku, tapi ternyata orang yang paling tidak suka denganku dan dengan apa yang aku lakukan!
Mengapa aku selalu dianggap salah?
Mengapa aku selalu dijadikan bantal empuk untuk disalahkan?
Apakah mengeluh tentang rasa sakit adalah dosa?
Apakah aku tidak boleh mengeluh?
Aku terdiam tak berdaya; hanya air mata yang masih menemaniku. Aku tak pernah menemukan kata-kata hangat sebagai penghibur jiwa yang lara. Sudah berapa puluh bulan purnama demi bulan purnama, aku menyimpan semuanya. Tak seorang pun tahu selain abjad-abjad ini — aku hanya bisa merasakan bahwa tak seorang pun benar-benar peduli padaku. Mereka hanya suka dengan bantuanku, bukan kesakitanku ini.
Apakah orang-orang tahu?
Hujan dan panas selama ini tidak menjadi penghalang bagiku untuk datang. Bajuku sering basah dan membuatku masuk angin yang tidak aku rasa karena aku bertanggung jawab pada pekerjaanku. Kakiku berdarah karena banyak jalan, lari sana lari sini ketika banyak kegiatan yang harus dihadiri. Bahkan duduk dan tidur pun terasa menyakitkan karena otakku terus perang memikirkan setiap rencana untuk ke depannya. Aku menahan rasa haus dan lapar karena terlalu sibuk untuk memastikan kegiatan berjalan dengan lancar dan melayani semua orang yang hadir. Pekerjaan ini bukanlah impianku, menjadi volunteer yang tidak dapat bayaran sama sekali. Aku kira usaha tidak akan menghianati hasil, tapi kenyataan lain.
Sekarang aku terjebak di dalamnya: aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mencoba memperbaiki keadaan, menyelesaikan semuanya. Mengapa? Hanya karena pengabdian, aku berjuang mati-matian. Betapa menyedihkannya keadaanku. Semua usaha dan perjuanganku itu, jangankan mendapat apresiasi, dilihatpun tidak. Tidak berarti apa-apa! Bahkan ketika aku berusaha speak up akan ketidakadilan ini, apa yang aku dapat di-bully, dicemooh, dihina, dikatain habis-habisan.
Di tengah keramaian, aku berdiri sendirian
Membawa harapan, namun diabaikan
Suara-suara sumbang memenuhi langit
Mengkritik langkahku, meremehkan cita-citaku.
Dengan sepenuh hati aku berjuang,
Membangun jembatan antara jiwa dan raga
Namun kata-kata tajam bagai belati
Menusuk dalam-dalam, menggoyahkan imanku.
Dari sudut gelap, fitnah bertebaran
Seolah kebaikan adalah dosa yang terlarang
Mereka yang tak mengerti menghakimi dengan sebelah mata
Menghujat tanpa tahu betapa sakitnya perasaan ini
Akulah cahaya yang mencoba bersinar
Namun bayang-bayang mencuri cahaya itu
Dalam setiap tawa yang penuh kepalsuan
Ada luka yang terpendam didalam hati ini.
Rasa sakit ini tak akan hilang begitu saja
Namun aku tetap berdiri meski terjatuh dan tersungkur
Karena dalam setiap air mata
Ada kekuatan yang takkan pernah pudar.
Meski dunia mungkin tak menghargainya
Aku akan terus berjuang tanpa henti
Karena di balik segala celaan dan hinaan
Ada harapan baru yang menanti di ujung jalan.
Aku akui, aku hanya seorang kurcaci; seberapa pun aku berusaha bersuara, tidak akan pernah di dengar. Tetapi, setidaknya aku sudah berusaha melakukan sesuatu untuk diriku sendiri, tidak hanya terdiam saja tanpa usaha apa pun meskipun hasilnya masih kosong. Mungkin Tuhan mempersiapkan sesuatu yang lebih baik dari ini, di tempat lain.








Leave a Reply