Kehilangan yang menyelamatkan

Fitur Bahasa Indonesia reguler kami bekerja sama dengan TCK Learning Centre untuk Pekerja Migran (Our regular Indonesian feature in collaboration with TCK Learning Centre for Migrant Workers)

Di persimpangan jalan Jordan, depan exit A stasiun MTR Hong Kong, takdir bermula pada 21 Oktober 2021, saat aku baru tiga tahun bekerja di Hong Kong. Di bawah lampu kota, aku memberanikan diri menyapa seorang pria yang usianya terpaut jauh. Pertemuan singkat itu berkembang: hari berganti tahun, hubungan kami kian dekat, hingga ia menawarkanku bekerja di rumahnya. Tanpa pikir panjang, aku setuju dan kami pun tinggal seatap.

Hidup bersama tak semudah yang dibayangkan. Empat bulan pertama dipenuhi selisih paham dan pertengkaran. Namun suatu pagi, Daniel memecah ketegangan dengan pelukan hangat dan kecupan lembut di kening, lalu berbisik bahwa minggu depan kami akan berlibur ke Thailand. Dadaku membuncah — ini pertama kalinya aku akan jalan-jalan ke luar negeri. Sambil memeluknya erat, aku berbisik, “Terima kasih, hubby,” panggilan sayang yang khusus untuknya.

Sejak itu, Daniel selalu menuruti keinginanku, berusaha membahagiakanku. Hampir tiap tiga bulan kami melancong: Vietnam, China, Thailand, Indonesia, Makau, bahkan Eropa.

Aku benar-benar merasa menjadi wanita paling bahagia. Ia mencukupi segalanya: finansial, kebutuhan harian, dan menjanjikan masa depan. Tak hanya materi, waktu dan tenaga pun ia berikan.

Aku terbuai dan menyerahkan seluruh kepercayaan serta kendali hidup padanya. Apa pun katanya, aku selalu mengiyakan. Tanpa sadar, aku kehilangan diriku sendiri demi menjaga kebahagiaannya karena ia telah begitu baik.

Sampai suatu hari, dering ponsel menghancurkan semuanya. Sebuah pesan WhatsApp masuk tanpa sengaja ke ponsel Daniel: “Baby, when you come to my room? I miss you.”

Jantungku berdegup kencang, air mata jatuh tak tertahan. 

Dengan tangan gemetar, aku bertanya siapa perempuan itu. Tanpa rasa bersalah, Daniel menjawab santai, “Ini salah satu wanita yang melayaniku, pekerja prostitusi.” Kata-kata itu meremukkan hatiku. Lelaki yang selama ini kupercaya, yang mengontrol hidupku, ternyata membagi dirinya di tempat lain. Lima tahun aku bergantung padanya, lima tahun aku kehilangan jati diri karena ambisi dan takut kehilangan topangan finansialnya.

Saat kontrak berakhir, Daniel melepasku begitu saja. Dingin ia berkata, “Kau harus bisa membangun bisnismu sendiri. Saatnya pulang ke Indonesia.”

Di Bandara Internasional Hong Kong, aku menangis sejadi-jadinya, batin menjerit karena merasa ada yang tertinggal. Pesawat lepas landas membawa seluruh kekecewaan dan luka.

Beberapa minggu di Indonesia, sakit hati justru bertambah. Lewat aplikasi myfind, kulihat posisi Daniel selalu di sebuah hotel di Shenzhen. Kenyataan itu menampar kesadaranku. Di tengah upaya memulai bisnis sendiri, aku meratapi diri lalu tersentak: ini bukan hidup yang kuinginkan.

Cukup sudah aku menjadi orang yang dia mau, bukan diriku sendiri. Tubuh dan jiwaku hanya aku yang berhak menentukan jalannya.

Di suatu siang, kukirim pesan terakhir kepadanya: “I’m done, Daniel. I surrender. I’m sorry, I can’t do business in Indonesia.” Lalu kublokir semua kontaknya.

Berbulan-bulan tanpa kabar, perlahan aku justru menemukan kembali diri yang hilang.

Aku mulai memahami apa yang diperlukan jiwa dan hatiku. Selama ini aku salah, terlalu keras pada diri sendiri demi ambisi, kehilangan jati diri, dan menerima tekanan karena takut ditinggalkan.

Kini aku kembali ke Hong Kong, bukan sebagai yang dulu, melainkan versi baru yang menerima diri seutuhnya dan tak lagi takut kehilangan. Kadang, rasa kehilangan justru menyelamatkan kita dari penyesalan berkepanjangan.

Pesanku: jangan terlalu ambisi meraih segalanya hingga kau kehilangan dirimu sendiri. 

Find out more:

Leave a Reply

Author

tcklearningcentre avatar

Written by

Trending

Discover more from Pangyao

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading