Modal nekad

Fitur Bahasa Indonesia reguler kami bekerja sama dengan TCK Learning Centre untuk Pekerja Migran (Our regular Indonesian feature in collaboration with TCK Learning Centre for Migrant Workers)

Seorang siswa perempuan berdiri di depan meja belajar dengan tas ransel, melihat ke arah buku terbuka di meja, dikelilingi oleh latar belakang dinding yang penuh dengan peta dan dokumen.

Di sebuah desa kecil bernama Argopeni (Argo: gunung, Peni: indah) yang terletak di pegunungan yang dikelilingi hutan dan laut, saya dilahirkan. Panggil saja saya Arunika Sooky. Saya anak pertama dari dua bersaudara perempuan. Kami hanya keluarga yang sederhana, kedua orang tua yang hanya lulusan kejar paket A bekerja sebagai buruh serabutan. Setelah saya lulus SMK, saya bingung mau ngapain karena di benak saya ingin kuliah, tapi bila saya sampaikan keinginanku ke orang tua bakal perang dunia terutama dengan mamahku, karena waktu saya tamat SMP saja waktu itu mamah meminta saya untuk tidak melanjutkan sekolah lagi. Sekolah cukup sampai SMP saja; perempuan sekolah sampai SMP itu sudah tinggi. Maunya mamahku setelah lulus SMP saya merantau ke Jakarta atau ke Bandung jadi pembantu rumah tangga. Tapi saya pikir masih kecil, masih anak-anak baru selesai SMP mana saya mau merantau ke Jakarta atau ke Bandung bekerja sebagai PRT. Saya juga belum ada pengalaman; saya masih takut. Tapi mana mamah tahu akan hal itu. Saya coba mengutarakan keinginan saya untuk lanjut sekolah karena kebetulan saya sebagai siswa terpilih mendapat surat undangan dengan biaya sekolah diskon di sekolah akademik kebidanan dari Yogyakarta dan akademik perawat di Purwokerto. Saat saya utarakan keinginanku, mamahku langsung menolak tidak menyetujui saya sekolah lagi dengan alasan jauh dan tidak mampu membiayai. Saya sangat kecewa kenapa saya harus terlahir dari keluarga yang seperti ini. Saya merenggek ke papahku; saya pingin sekolah lagi. Kalau gak boleh yang jauh, saya mau sekolah yang dekat dekat saja asal saya bisa melanjutkan sekolah. Papah pun diam tidak memberikan jawaban. Saya mengurung diri di kamar selama beberapa hari, dan perang dingin dengan mamahku. Papahku berusaha mencari informasi dan mendengar tentang sebuah SMK di mana anak uwa saya sekolah di SMK tersebut. Akhirnya papah menawarkan ke saya mau tidak sekolah di situ, dan saya langsung mengiyakan. Sekolahnya jauh jadi saya harus kos dengan anaknya uwa saya. 

Pemandangan malam kota Singapura dengan gedung-gedung tinggi dan cahaya lampu yang berkilau di tepi teluk.

Setelah lulus SMK, lagi lagi saya bingung pingin kuliah tapi sudah pasti tidak bakal disetujui oleh mamahku karena biaya kuliah pasti sangat mahal. Beberapa bulan saya di rumah, slentingan-slentingan tetangga sangat menganggu telingaku. Saya dikatain pintar juga percuma kalau tidak punya keahlian. Baru aja sebulan di rumah sudah begitu, mamahku meminta saya untuk istirahat dulu sambil cari-cari informasi pekerjaan. Dalam diam saya berpikir mau kerja apa. Tiba -tiba ada sponsor (orang yang nyari orang untuk kerja di luar negri) datang. Malam harinya saya ngomong ke orang tua saya mau kerja ke luar negri, tapi lagi-lagi mamah menghalangi. Saya berkata “Semakin cepat berangkat, semakin baik. Jadi saya tidak perlu lama-lama di rumah.” Kata mamahku, nyari kerja aja dulu di Jakarta — cari pengalaman dulu. Saya menjawab, berangkat sekarang atau pun nanti sama aja dan kalau kerja keluar negri gaji lebih besar. Setelah beradu argumen akhirnya mamahku mengizinkan. Esokan sorenya sponsor itu datang lagi, dan  kemudian saya berangkat setelah mengurus semua dokumen. Keputusan yang saya ambil sungguh mendadak, tidak ada satu pun temanku yang saya pamiti. Yang ada di pikiranku hanya saya harus bekerja, soal kuliah nanti saja, yang penting sekarang bagaimana saya dapat menghasilkan uang untuk membayar hutang orang tua. Selain membayar hutang, saya juga ingin membangun rumah karena rumah sudah tak layak huni. Bila ada hujan semua bocor, bila ada angin semua atap terbang. Dari itulah saya niatkan dan tekadkan saya merantau ke Singapura untuk membangun rumah dan modal kuliah saya. 

Dua bulan di penampungan saya dapat job. Setelah semua dokumen lengkap, saya pun terbang. Perasaan takut menyelimuti pikiranku karena ini pertama kalinya saya kerja, dan kerja di Singapura harus menggunakan bahasa Inggris dan terdapat perbedaan kebudayaan. Saya niatkan dengan bismillah. Sesampai di Singapura, saya dijemput majikan saya di agency. Syukurlah, majikan saya baik dan tidak pelit. 

Find out more:

Leave a Reply

Author

tcklearningcentre avatar

Written by

Trending

Discover more from Pangyao

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading