
Written by E. Dwi Ernawati, Edited by Lie Fhung
Minggu pagi yang mendung angin menerpaku. Teringat wajah temanku yang telah lama tak berjumpa dan tidak kutahu bagaimana kabarnya sekarang. Namaku Wati, sekarang aku masih di perantauan. Ingin sekali aku bertemu dengannya; seorang teman yang dulu aku anggap sebagai kakak perempuanku. Namanya Mey Jikun, yang aku kenal di kantor agen tenaga kerja ke Hong Kong yang berkawasan di Malang pada 24 tahun yang lalu. Waktu itu kami sama-sama masih berusia 19 tahun, tetapi aku merasakan sosok seorang kakak yang pemikirannya lebih dewasa dariku. Ia sering mengingatkan aku tentang berbagai hal dan kami sering bercanda ceria bersa-ma. Kami menjalani pelatihan selama 7 bulan, akan tetapi Mey mendapatkan majikan dan ter-bang ke Hong Kong terlebih dahulu. Namun, 2 minggu kemudian aku pun menyusul. Waktu terbang – entah sedih atau gembira perasaan itu masih terasa sampai sekarang, di tahun 2001 era yang belum semua orang mengenal gawai digital dan belum bisa leluasa berkabar. Sesampai di Hong Kong, aku terkekang majikan yang super cerewet; 2 tahun tidak libur dan tidak tahu bagaimana kabarnya Mey.
Setelah kurang lebih 3 tahun kita baru bisa bertemu di kantor agen Hong Kong. Itu pun tanpa disengaja. Terkejut bahagia melepas kangen dengan Mey, karena waktu itu dia diwa-wancara? mencari majikan baru ketika saya sedang libur dan mengunjungi kantor agen. Kami pun bertemu setelah lama tidak berkabar. Waktu itu sudah ada handphone walaupun cuma bisa mengirim SMS, dan kami pun saling bertukar nomer handphone. Senang sekali kita bekerja di satu wilayah – bisa sering bertemu di pasar dan berlibur bersama. Waktu jadi serasa singkat. Saya ingat pada suatu hari Minggu kamu mendapatkan telepon dari kerabatmu di Indonesia, kabar yang tidak kita inginkan dan kamu langsung menangis. Hatiku pun ikut menangis karena bapakmu telah tiada; mengharuskanmu untuk pulang ke Indonesia di tahun 2006 itu. Waktu kamu berpamitan untuk pulang, apalah daya, hanya do’a yang bisa kuberikan menyertai per-pisahan kita. Aku ingat ucapan dan nasehatmu “Dek, jaga diri baik-baik. Kalau Tuhan sayang kita, pasti nanti kita bisa berjumpa kembali”. Ucapan inilah yang selama ini masih kupegang teguh: namamu dan sosok seorang kakak di hidupku.
Sekarang aku sudah dewasa, sudah berusia 40 tahun lebih. Aku sudah berkeluarga dan punya anak laki-laki,. Apakah kamu sudah berkeluarga juga? Apakah juga sudah punya anak? Moment ini dan cerita kehidupan bahagiaku ini yang ingin kukabarkan untukmu, Mey. Akankah Tuhan mempertemukan persabahatan kita lagi? Mungkin takdir waktu yang akan berbicara… Aku hanya bisa berharap kita bisa berjumpa kembali. Waktu mengajarkan aku me-langkah di kehidupan yang keras tanpa lelah dengan mengingat ketulusanmu. D i medsos aku-pun pernah mengekspos tentang kamu – berharap ada yang mengenalimu, namun masih nihil. Sampai detik ini aku belum temukan titik terang. Di hatiku tidak ada lelah untuk terus mencari-mu kelak, malah semakin kuat rasa rindu akan kita bisa bertemu lagi. Aku berharap takdir wak-tu memihak pada nasibku.
Tidak dapat dipungkiri bahwa teman itu adalah salah satu anugerah terindah dalam ke-hidupan kita. Mereka bukan hanya sekedar penyemangat dalam pergaulan, tetapi juga menjadi pendengar setia dalam setiap cerita. Dalam momen-momen spesial maupun kehidupan sehari-hari, kata-kata bersama teman sangatlah berarti dan penuh makna dan juga dapat membangkit-kan semangat di saat kita sedang lemah. Namun adakalanya kita tidak boleh mencela dan mem-benci teman yang tidak berkenan di hati, karena kehadiran mereka juga berarti untuk memp-erbaiki serta mengintrospeksi diri. Akan aku teruskan upayaku untuk terus mencarimu, Mey. Kemungkinan cutiku kali ini aku akan niatkan berkunjung ke daerah Malang. Semoga ada orang baik yang menjadi perantara untuk kita berjumpa. Do’a ku tetap sama: semoga ada suatu keajaiban dalam penantian – di mana pun kamu sekarang berada, aku berharap kamu masih ingat namaku, aku berharap juga kamu masih ingat wajahku. Mey, tunggu aku. Sehat-sehat kamu dan semua keluargamu, ya. Miss You, Friend!








Leave a Reply