
Written by E. Dwi Ernawati, Edited by Lie Fhung
Namaku Lala, yang terlahir dari keluarga yang serba kecukupan. Namun, Tuhan memberiku anugerah; aku disabled. Ya, ini kenyataan pahit yang harus kulalui. Paras cantik pun tidak guna – aku tidak bisa ber jalan dengan sempurna. 16 tahun silam yang merenggut salah satu sarafku hinggga tidak berfungsi. Berbagai medis sampai dokter termahal pun tidak bisa memulihkan.
Aku sekarang di SMA – sekolah, pakaian dan semua yang aku punya semuanya pilihan mimi. Dari kecil hingga remaja hambar, semua bisa di beli dengan uang, tapi tidak dengan kebahagiaanku. Sepulang sekolah, seperti biasa aku mengurung diri di kamar tidak punya teman. Di kelas pun aku jarang berkomunikasi dengan teman yang lain. Tok tok “Ning Lala.. Ning… makanan dah siap di balik pintu”, ada si Mbok Ijah memanggilku. “Iya, Mbok.”, sahutku. Lalu kuambil tongkat, langsung berjalan ke ruang makan di mana semua menungguku. Papi membuka pembicaraan:
Papi: La.. Kamu nanti kuliah di mana atau Mimi yang mencarikan, sayang?
Lala: Pi… Mi… Lala udah gede, please… Toh kurang 1 tahun kelulusan, Lala bingung di antara dua pilihan: sastra atau desainer…
Mimi: Apa! OMG Lala kenapa tidak ambil akutansi aja atau apa – kamu tidak mbantu di kantor Papi?
Papi: Mi, cukup. Lala sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya…
Mimi: Tapi Pi, dia mau jadi apa! Gimana nanti ke depannya?
Lala: Please, Mi – kali ini biar Lala sendiri yang memilih
Mimi: Mimi kurang setuju. Ok, kalau itu yang kamu mau, apa pun pilihanmu Mimi dukung
Lala: Thanks, Mi, Pi.
Setahun kemudian akhirnya lulusan tiba. Dengan keteguhan dan keinginan, hatiku memutuskan untuk memilih sastra. Aku ingin menulis dan berkarya. Aku di terima di Universitas swasta ternama fakultas sastra di negeri ini. Lagi lagi aku tidak ingin mengenal dan berdekatan dengan siapa pun di sana. Mencari ilmu lebih kuutamakan dan tidak ingin kusia-siakan selagi ada kesempatan. Suatu hari, tiba-tiba hatiku berdebar tidak karuan bikinku tidak jenak dengan tatapan seseorang yang ada disampingku. Baru kali ini aku merasakan pandangan yang tajam. Dalam hati berkata, siapa orang ini beraninya menatapku. Ternyata dia anak baru bernama Roy. Di saat jam istirahat, semua ke kantin. Seperti biasa, aku tidak keluar dari kelas. Aku keluarkan bekal dari Mbok Ijah menu rutinku sandwich dan salad buah. Roy mengulurkan tangan sembari berkata, “Nama kamu siapa? Boleh kenalan?” Kubalas dengan senyum kecutku. Roy malah jongkok meledekku.
Roy: Cantik cantik jutek, nanti ilang cantiknya tinggal juteknya..” (membuat aku tertawa dan saat itu aku merasakan sesuatu yang berbeda di diriku).
Lala: Aku Lala (kami saling berjabat tangan).
Roy: Aku melihatmu lebih sempurna dari wanita lain. Maukah kamu jadi pacarku?
Lala: Kenal baru semenit, ngaco kamu ini!
Roy: Aku kan tunggu jawabanmu sampai kapan pun.
Lala: Kamu yakin? Aku bukan orang baik, fisikku juga cacad. Kamu yakin orang tuamu merestui hubungan kita?
Roy: Aku anak yatim piatu. Aku ditinggal dari umur 7 tahun; orangtuaku kecelakaan, oom dan tanteku yang merawatku.
Lala: Oh maaf, bukan maksudku mengingatkan kejadian yang menimpa almarhum ayah ibumu.
Semenjak perkenalan itu, aku dan Roy sependapat dan kita jadian. Sering aku ajak main ke rumah. Mimi Papi juga merestuinya. Bertahun-tahun tongkat yang menemaniku, sekarang jarang aku hentakkan ke tanah. Hari-hariku lebih ceria; dis itu ada aku, pasti ada Roy yang menjagaku.
Roy semangatku, Roy hidupku.
Hari ini aku dan Roy diwisuda dan kami kagum dengan prestasi kami. Roy bekerja di kantor oom-nya dan bertanggungjawab untuk memimpin perusahaan oom-nya. Kami pun memutuskan untuk menikah. Di hari bahagiaku, ada kejadian tak terduga: perusahaan papiku bangkrut. Setelah menikah, kami tinggal di apartemen Roy – peninggalan orangtuanya. Roy membelikan sebuah rumah untuk Mimi Papi ku. Sungguh bahagianya orangtuaku. Mereka bangga dan lega melihatku menemukan sosok Roy. Penyayang, dan pengertian menerima kekurangan fisikku. Kami pun dikaruniai seorang anak yang sempurna. Aku percaya kesabaran dan keikhlasan pasti mengunduh kebahagiaan.








Leave a Reply