
Written by Anna, Edited by Lie Fhung
Namaku Ena. Aku lahir sebagai anak sulung di keluarga yang jauh dari kata harmonis. Rumahku penuh teriakan. Ayah temperamental, dan kekerasan fisik adalah hal biasa jika kami dianggap membangkang. Ibu menjadi tulang punggung karena ayah jarang bekerja. Pertengkaran mereka adalah pemandangan sehari-hari. Aku dan adik-adik hanya bisa meringkuk di sudut sofa, takut, dan tak berani bersuara. Rasa aman adalah mimpi yang tak pernah nyata. Luka masa kecil itu mengendap, membekas hingga dewasa.
Saat kami mulai bekerja, orang tua berkata kami berhutang budi. “Kalian harus bantu dapur,” adalah kalimat yang terus terngiang, seolah hukum yang tak terbantahkan. Kami menurut, bukan karena kasih, tapi karena doktrin kewajiban yang sudah tertanam kuat.
Di usia 18 tahun, demi lepas dari beban keluarga, aku menikah dengan pria 35 tahun yang bahkan belum pernah kukenal. Bukan karena cinta, tapi karena ingin lari. Pernikahan sederhana itu terjadi pada 8 Oktober 2008. Dua bulan kemudian, suamiku kembali ke Malaysia, meninggalkanku bersama mertua. Aku berharap mendapat keluarga hangat, tapi kenyataannya mereka memandang rendah aku. Dengan trauma masa kecil, aku berusaha menyenangkan mereka, tapi malah dimanfaatkan, dikontrol, dan dipojokkan.
Tahun 2009 hingga 2016, saat suamiku sukses, itu justru memicu kecemburuan keluarga. Saat suamiku ingin membahagiakanku, mereka memfitnah. Dan dia, dengan dalih “Surga di telapak kaki ibu,” selalu lebih percaya mereka.
Dunia serasa gelap. Hatiku hancur. Tanpa pikir panjang, aku menggendong anakku dan pergi dari rumah mertua. Aku kembali ke rumah orang tua, pura-pura tersenyum meski raga terasa kosong
Puncaknya, Ramadan 2015, aku tak tahan. Dengan suara gemetar, kutelepon dia.
“Yah, pulang ya. Aku nggak sanggup tinggal sama keluargamu tanpa kamu di sini,” pintaku.
Jawabannya menusuk. “Kalau kamu nggak sanggup, minggat saja. Masih banyak wanita lain yang mau sama aku dan keluargaku.”
Dunia serasa gelap. Hatiku hancur. Tanpa pikir panjang, aku menggendong anakku dan pergi dari rumah mertua. Aku kembali ke rumah orang tua, pura-pura tersenyum meski raga terasa kosong.
Berbulan-bulan tanpa kabar, setahun berlalu tanpa kepastian. Hingga Lebaran tahun berikutnya, dia muncul. Air mataku tak terbendung. “Mas, aku lelah. Lebih baik kita cerai,” kataku lirih.
“Baik. Kita cerai,” jawabnya datar.
Ayah yang mendengar tangisku hanya bisa berkata lirih, “Ndak popo, Nduk. Nek kuat dilakoni, nek ora kuat ya ditinggal.”
Tahun 2017, kami resmi bercerai. Tanpa harta, tanpa kejelasan.
Setahun berselang, aku memutuskan pergi ke Hong Kong demi masa depan anakku yang saat itu berusia 7 tahun. Takdir berkata lain. Sepuluh hari sebelum keberangkatan, ayahku jatuh sakit. Tanggal 7 Juli 2018, dia pergi untuk selama-lamanya, hanya meninggalkan air mata.
Tujuh hari setelah pemakaman ayah, aku tetap nekat berangkat. Malam terakhir, aku memeluk erat anakku yang tertidur. Kucium keningnya berulang kali, berbisik, “Maafkan Ibu, Nak… Ibu sayang kamu.” Pagi harinya, telepon berdering. Tangis anakku pecah. “Ibu… Ibu kemana? Kenapa ninggalin aku? Ibu balik ya…!” Aku tak sanggup bicara. Aku masuk kamar mandi, membiarkan air mata mengalir deras, dada serasa meledak.
Sepuluh tahun telah berlalu di negeri orang. Kini, menoleh ke belakang, aku tersenyum getir namun bangga. Aku bertahan. Aku yang dulu tak punya suara, kini belajar bahwa memiliki batas diri itu penting. Aku belajar untuk tidak terus-menerus menyenangkan orang lain hingga melupakan diriku sendiri.
Sebagai wanita, kita harus berdiri di atas kaki sendiri. Kita dilahirkan istimewa dan berharga. Jangan pernah beri siapa pun kesempatan untuk merendahkan kita. Luka memang menggores, tapi jangan biarkan ia menghentikan langkah. Wanita hebat adalah yang tahu nilai dirinya dan berhak bahagia tanpa harus membayar dengan air mata.








Leave a Reply