
Written by EDE, Edited by Lie Fhung
16 Agustus 2001 langit masih gelap dan dingin, saya harus bergegas bersiap diri menuju Juanda, Surabaya. Sesampai di Juanda, nafas mulai tidak beraturan gugup campur takut, pertama kali naik pesawat dan ke luar negeri, merantau mengadu nasib dan berharap dapat majikan baik. Setelah mendarat di Hong Kong, saya mengurus KTP di Kantor Imigrasi Hong Kong didampingi agen. Kemudian, dua hari saya tinggal di asrama dengan perasaan campur-aduk — bagaimana pekerjaan dan kehidupan saya ke depannya. Di hari ke-3 saya sempat kaget antara senang dan takut karena agen memberitahu siang nanti majikan menjemput. Jam 2 siang di balik pintu saya melihat majikan tersebut memiliki sorot mata yang tajam, bibir yang tipis, dan wajah yang jutek.
Agen: Dwi sini, ini majikan kamu
Saya: Lei hou ma, mom (saya senyum menyapa majikan dan dia melempar senyum kecut).
Wah, batin saya makin kacau; benar-benar firasat yang tidak baik. Singkat cerita, saya dibawa pulang majikan dan langsung diperlihatkan isi rumahnya. Majikan orangnya sangat tertib, daftar pekerjaan saya sangat detail, dan majikan dengan ringannya melontarkan bahwa ketika saya melakukan pekerjaan, harus dilihat semua oleh majikan; intinya majikan tidak percaya. Saya seakan tidak percaya mendapatkan majikan yang super bawel. Saya jadi kurang istitahat, kurang makan yang layak, bahkan air minum pun di jatah. Saya bisa menahan lapar, akan tetapi saya tidak bisa menahan haus dengan air minum yang dibatasi. Akhirnya kalau saya haus, saya terpaksa saya minum air kran dike toilet. Saya pilih kran di toilet karena saya takut dimarahi: di dapur ada CCTV. Saya seperti hidup di dalam penjara. sSaya tidak diijinkan keluar rumah, belanja pun online terkadang dibantu adiknya majikan. Hak libur juga tidak dikasih. Sebulan pun berlalu, dan saya mendapatkan gaji, namun underpaid. Ketika saya menanyakan kenapa jumlah gaji tidak sesuai di kontrak kerja, majikan malah menelepon agen, dan agen ternyata berpihak pada majikan. Tidak ada yang menolong saya. Apalagi dulu belum ada handphone, jadi susah untuk mencari pertolongan. Saya menerima perlakuan yang seringkali mengganggu mental dan fisik saya.Ssering dimarahi dan dibentak-bentak, bahkan dilempari apapun yang ada di tangan majikan. Berlinang air mata dan bercucuran keringat waktu dini hari yang seharusnya jam istirahat tetapi saya masih bekerja. Jam 9 malam saya memasak dinner, menyiapkan anak mandi, mencuci piring, mengelap kabinet dan sofa, dan berakhir dengan vacuuming lantai dan mengepel. Terkadang sampai jam 4 pagi saya masih berkerja, dan itu saya sendiri belum mandi. Saya tidur cuma 1 jam karena jam 6 pagi sudah harus bangun mempersiapkan anak sekolah. Dalam seminggu ada jadwal ganti seprei, dan mengelap jendela juga; hati saya pilu jam 3 pagi saya yang masih mengelap jendela. Inikah takdir saya? Sepahit inikah kenyataan hidup di rantau…
Menahan siksaan batin berbulan-bulan, tidak terasa setahun sudah berlalu. Majikan sudah mulai percaya pada pekerjaan saya. Ia juga mulai mengijinkan saya untuk belanja sendiri ke pasar. Momen yang tidak terduga di saat saya keluar rumah di bawah apartemen, saya melihat kakak kandung saya. Tanpa bisa berkata apa-apa, langsung saya peluk erat dia. Kami tidak bisa menahan tangis — tangisan rindu dalam pilu. Kakak saya ternyata setiap hari di jam 3 sore belanja di pasar dekat rumah majikan dan selalu berharap bertemu dengan saya. Hal itu dilakukannya selama hampir setahun ini dengan mencari informasi alamat majikan ke agen saya. Saya bercerita tentang majikan yang cerewet dan pekerjaan saya yang sangat berat. Karena agen tidak membantu, dan saya juga takut untuk melawan, saya bertahan dua tahun bekerja hingga selesai kontrak kerjanya. Saya mencari majikan baru yang lebih baik. Hidup ini keras sekeras batu, tapi saya percaya hidup yang tulus akan membawa kita kepada kesuksesan. Dari sini saya mendapatkan tiga sugesti yang membuat saya kuat: Saya cinta diri saya, Saya bahagia, Saya bisa!!!








Leave a Reply