
Written by Endang D.E., Edited by Lie Fhung
Ini kisah yang mengajarkanku tentang kejujuran, kepercayaan, dan arti sejati sebuah persahabatan. Semuanya dimulai ketika aku bertemu dengan teman baru di sekolah. “Hai, aku Anggie”, kuperkenalkan diri. Dia membalasku, “Hai juga, aku Sarah.” Sarah adalah gadis yang sangat ceria, cerdas dan ramah. Kami mulai akrab karena memiliki banyak kesukaan yang sama, seperti hobi, warna kesukaan, film dracin, bahkan makanan favorit kami pun sama.
Kami berdua duduk sebangku. Aku merasa beruntung telah kutemukan teman sebaik Sarah. Kami sering menghabiskan waktu bersama sepulang sekolah: berkuliner bersama, berbicara tentang film dracin yang kami tonton bersama, bahkan bercerita tentang perasaan kehidupan nyata.
Tetapi suatu hari semua berubah. Aku menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan, bahkan aku sangat membenci Sarah seketika. Di balik cerita yang aku ceritakan, Sarah mengkhianatiku. Aku pernah bercerita tentang Roy anak sekelas kami yang aku suka, tapi tidak punya kekuatan untuk menyatakan rasa itu. Tapi hari ini Sarah kencan dengan Roy! Itukah sahabat? Kamu sungguh egois, Sarah!
Aku tak tahu berbuat apa. Benci pasti ada, tapi di hatiku telah kutanamkan Sarah adalah sabahat sejatiku. Sarah datang untuk memberitahu tentang kencannya itu – dia tidak bisa menolak Roy. Aku pun tahu aku juga sadar diri. Siapa sih, yang tidak tertarik dengan Sarah? Semua cowok akan pasti suka; Sarah cantik, ceria dan pintar. Apa aku harus mengalah demi persahabatan? Nafasku sangat tidak stabil merelakan pujaan hatiku bersama sahabatku.
Kini hari-hari kami sangat canggung; ada batas ruang walaupun kami sebangku. Sarah pun tahu aku sedang marah, kita selang waktu tidak saling sapa. Hubungan kami pun rentan. Aku memilih menyendiri tanpa teman tanpa sahabat. Kubiarkan hari-hari yang redup tanpa adanya Sarah. Selang waktu, aku terbiasa dengan semua ini. Tidak lagi kecewa atau sakit hati karena di hatiku kau masih sahabatku, Sarah. Mungkin ini proses menjadi kepribadian yang lebih baik, berfikir yang positif dan tetap menyemangati diri.
Di pertengahan semester kelas 3, Sarah tiba-tiba menelponku. Dia menangis ingin sekali menemuiku. Dia benar-benar sangat memohon maaf; bisa kubaca dari nada bicaranya. Aku pun mengiyakan pertemuan kita sepakat jam 4 sore di café langganan kami bertemu. Waktu menunjukkan jam 4 sore, aku masih di rumah. Kakiku terasa kaku untuk melangkah, akan tetapi hatiku melaju untuk pergi ke café. Aku pun bergegas pergi. Sampai di sana kumelihat Sarah yang duduk di pojok tempat biasanya kami duduk. Dia segera berdiri dan berlari memelukku.
Sarah (sambil menangis): “Maafkan aku, Anggie! Tolong maafkan aku”.
Anggie: “Maaf tidak semudah yang kau bayangkan, Sarah. Kau mengkhianati persahabatan yang kupercayakan. Apa kau tahu betapa hancurnya hatiku?”
Sarah: “Please, Anggie… kasih aku kesempatan sekali lagi untuk membangun kepercayaan itu. Aku Sudah putus dengan Roy. Ternyata hubungan kami terganjal. Aku tau itu, aku memilih putus dari Roy karena aku ingin kita terus bersahabat, Anggie. Aku menyadari kesalahanku. Aku menyalahi semuanya. Tolong maafkan aku…”
Anggie: “Aku sebenarnya sudah memaafkan karena itu pilihanmu. Aku merelakan dan aku ingin sahabatku bahagia. Itu yang dapat aku lakukan.
“Jangan berusaha melupakan karena itu akan sangat sulit untuk di lakukan. Tapi belajarlah menerima kenyataan agar perlahan hatimu dapat merelakan.”
Sarah tersenyum mendengar jawabanku, mungkin sedikit melegakan perasaan bersalahnya.
Setelah itu hubungan kami menjadi lebih kuat. Kami belajar untuk saling menghargai satu sama lain apa adanya. Kami belajar bahwa persahabatan sejati adalah tentang harus menerima, mendukung satu sama lain dengan segala kelebihan dan kekurangan. Berani berbicara tentang masalah dan menyelesaikan konflik bersama.
Aku berharap bahwa kisah ini dapat menjadi pengingat bahwa persahabatan adalah hal yang berharga dan perlu dijaga karena itulah dasar dari hubungan sahabat yang sehat dan kuat.








Leave a Reply