KJRI message (Apr/May 2025)

Pesan rutin Konsul Jenderal Yul Edison untuk komunitas Indonesia di Hong Kong [Consul General Yul Edison’s regular message for Hong Kong’s Indonesian community]

Seorang pria dewasa berdiri di depan lambang negara Indonesia, mengenakan kemeja batik berwarna merah dan cokelat.
Logo Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong, menampilkan simbol garuda dan elemen bendera di dalam lingkaran biru.

Tanpa terasa, Idulfitri kembali menyapa masyarakat Muslim Indonesia di Hong Kong. Untuk sebagian, mungkin ini menjadi kali pertama atau kedua merayakan Idulfitri jauh dari sanak keluarga di kampung halaman. Namun bagi yang lain, mungkin sudah tidak terhitung berapa hari raya harus dilewati di negeri orang.

Terlepas dari berapa kali kita merayakan Idulfitri dengan berjauhan dari keluarga, rasa nelangsa pasti akan selalu ada. Berjabat tangan, berpeluk erat, hingga bersimpuh khidmat memohon maaf, pastinya menjadi nuansa yang sangat dirindukan di setiap kesempatan Idulfitri.

Banyak yang mungkin bertanya, untuk apa bekerja jauh di negeri asing? Bukankah terdapat peribahasa, ’’Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri’’?

Eid al-Fitr image

Idulfitri kali ini mungkin dapat menjadi momentum yang tepat bagi kita untuk merefleksikan kembali alasan keberadaan kita Hong Kong. Ada yang ingin membantu orang tua, menyekolahkan anak setinggi mungkin, membantu perekonomian keluarga, mengumpulkan modal usaha, dan berbagai latar belakang lainnya.

Apapun alasan di balik keberadaan kita di Hong Kong, pastinya dilandasi dan diawali satu niatan mulia, yakni ’’nawaitu’’ untuk bekerja agar menjadi lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, bagi orang tua, bagi anak, bagi orang-orang tersayang.

Selain menjadi puncak ibadah puasa selama bulan suci Ramadhan, Idulfitri senantiasa menjadi momentum untuk kembali kepada fitrah; kembali kepada kesucian hati dan jiwa. Secara khusus bagi kita di Hong Kong, Idulfitri dapat menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali niatan awal kita untuk datang ke Hong Kong.

Apakah kita masih berada di jalan yang benar? Apakah yang kita lakukan masih selaras dengan iktikad kita di awal? Atau sudahkan kita menjadi insan yang berbeda; yang silau dengan harta, galau dengan hasrat, akrab dengan dusta, hingga ringan menggadai diri? Wa-Allahu A’alam.

Semoga kita kembali dipertemukan dalam Idulfitri selanjutnya sebagai insan yang telah benar-benar kembali kepada kesucian. Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Idulfitri 1446H, mohon maaf lahir dan batin.

Leave a Reply

Trending

Discover more from Pangyao

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading