
Written by Arunika Sooky, Edited by Lie Fhung
Kamu itu tidak bisa berkomunikasi!
Kamu itu tidak bisa mengayomi!
Kamu itu gila jabatan!
Kamu itu gila hormat!
Kamu itu plin-plan!
Kata-kata itu bak petir menyambar di siang bolong pada kala itu bahkan hingga sekarang masih terngiang jelas di pikiran dan benakku. Masih banyak kata-kata lain yang menggores hati ini. Saya tidak menyangka semua kata- kata itu keluar dari orang-orang yang selama ini saya anggap sangat baik, tulus dan mendukungku. Tetapi ternyata saya salah atau memang saya yang terlalu berpikir positif terhadap mereka, hingga tidak sedikit pun prasangka buruk kepada mereka.
Bila saya tidak bisa berkomunikasi, siapa yang selama ini melakukan komunikasi untuk kolaborasi? Bila saya tidak bisa mengayomi ketika teman-teman ada masalah, siapa yang mendengarkan dan memberikan saran dan men-support? Kalau saya gila jabatan, jabatan kayak apa yang sudah saya dapat! Bila saya gila hormat, sudah berapa kali saya dapat penghargaan dengan semua yang sudah saya lakukan dalam lima tahun ini? Bila saya plin-plan, kenapa saya masih punya pendirian dan masih di sini untuk membantu?
Saya tidak habis pikir pada orang orang yang saya anggap baik, ternyata begitu. Bagi orang yang belum pernah di posisi saya pasti mereka tidak akan pernah tahu bahwa tenaga, waktu, pikiran dan bahkan materi itu seakan tidak ada arti dan harganya sama sekali. Dari sinilah saya belajar bahwasanya orang yang kelihatan baik dan ramah itu bisa jadi orang yang paling tidak suka dengan kita. Sampai sekarang pun saya tidak habis pikir; padahal jangankan gosipin mereka, mention nama mereka aja saya tidak – karena bagi yang saya anggap orang yang baiknya tulus, saya malah sering menutupi keburukan mereka. Eee.. ternyata malah justru menikam.
Saya tertegun duduk di platform stasiun kereta mengingat semua kata-kata yang cukup menyayat hati. Dengan sweater merah yang lembut, celana pendek berwarna putih, sepatu boot cukup menghangatkabku sambil melihat hilir-mudiknya orang-orang yang keluar masuk kereta. Ingin rasanya saya buang perasaan yang tidak karuan ini di rel kereta yang lewat. Ingin rasanya kubertanya pada orang yang hilir-mudik di stasiun: Kenapa? Tapi tidak mungkin, sesekali saya usap air mata yang tak terbendung, apa salahku ke mereka. Padahal selama ini saya sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka; apakah tidak ada sedikit pun kebaikanku yang teringat di benak mereka? Kalau dipikir terlalu kejam, bahkan mereka juga tega mengusirku – seakan mereka sudah menjadi manusia yang paling suci tanpa dosa dan menjadi manusia yang lebih baik dari saya dan bisa melakukan yang lebih baik dari saya. Saya terima semua perlakuan mereka ke saya dan saya maafkan. Tapi saya tidak akan pernah lupa dan saya tidak bisa bersikap seperti dahulu lagi. Bagi saya, cukup sudah dengan orang-orang yang seperti itu. Kehidupan ini harus terus berjalan; yang tidak boleh focus kepada orang-orang seperti itu. Saya harus berdiri sendiri mendukung diriku sendiri, memotivasi diriku untuk melanjutkan perjalanan hidupku.
Satu tahun pun berlalu, saya masih seperti biasanya dengan aktivitasku. Omongan sanggar yang selalu mereka lontar ternyata hanya omdo alias omong doank – tidak ada bukti nyata orang-orang itu kerja. Kritikan yang selama ini dilontarkan kepada saya ternyata hanya untuk menjatuhkanku. Kenyataannya, masih saya yang harus melakukan semuanya. Dari peristiwa ini saya banyak belajar untuk menjadi lebih kuat menghadapi orang-orang yang tidak menyukai dan tidak mendukungku. Karena di dunia ini tidak semua orang yang kita anggap baik itu benar-benar baik dan mendukungmu. Bisa jadi dialah yang akan menjatuhkanmu. Ku beranjak dari tempat duduk. Dengan enggan kulangkahkan kaki untuk keluar dari stasiun. Sambil menghembuskan nafas berat, aku tinggalkan beban ini di rel kereta dan membuka lembaran baru untuk melanjutkan kehidupan yang masih misteri.








Leave a Reply