Temanku di manakah maku

Fitur Bahasa Indonesia reguler kami bekerja sama dengan TCK Learning Centre untuk Pekerja Migran (Our regular Indonesian feature in collaboration with TCK Learning Centre for Migrant Workers)

Seorang wanita mengenakan topi dan pakaian berwarna cerah, berdiri di jalanan pasar yang ramai, dikelilingi oleh orang-orang yang berjalan, dengan bangunan tinggi dan papan tanda berwarna-warni di latar belakang.

“Kita tidak bisa memilih terlahir dari siapa dan keluarga yang seperti apa, tapi kita bisa memilih masa depan kita.” Ya, kata-kata ini sesuai dengan sepenggal cerita hidupku yang akan kubagikan kepada kalian. Dari dulu aku merasa tidak terima dengan keadaan di keluargaku yang serba kekurangan, terlilit hutang dan jadi cemoohan orang-orang. Hatiku hancur seakan kena mental sejak dini, tapi aku selalu mengalihkan lara itu dengan berbagai kegiatan seperti membantu orang tua mencari kayu bakar, mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari hingga tanpa terasa aku tidak merasakan ketidakterimaan terhadap fakta kehidupanku yang berada di garis kemiskinan. 

Sejak kecil pikiranku selalu dipenuhi dengan hayalan kapan bisa makan enak, bisa beli apa yang aku mau meskipun aku tau itu tidak mungkin terjadi mengingat keadaan yang serba kekurangan. Ditambah melihat temen-teman sebayaku yang selalu bisa terpenuhi apa yang mereka inginkan cukup dengan ngomong doang. Beda halnya dengan aku yang apabila menginginkan hal kecil atau sesuatu harus bekerja keras. Itu pun terkadang belum tentu bisa aku dapatkan. Itu semua semakin menambah aku memberontak merasa iri dengan hidup orang lain. Semakin tidak terkontrol lagi emosiku dengan Sang Pencipta dan selalu mempertanyakan “Mengapa Tuhan, mengapa hidupku begini, untuk apa aku terlahir di dunia ini jika harus hidup susah.” Dengan tangis yang tanpa air mata karena kecewa berbalut emosi semakin membuatku tidak menerima kenyataan yang ada. 

Singkat cerita waktu pun telah berlalu dan usiaku pun makin bertambah. Semakin banyak yang kudapat dari di setiap perjalanan hidup. Dan titik itu yang membuat aku tersadar bahwa yang terjadi dalam hidupku walau sepahit apa pun itu adalah bagian dari skenario Tuhan. Dari semua kejadian di masa lalu dengan segala kesusahan yang aku alami, itulah yang menjadikan aku jadi saat ini yang mampu berdiri di atas kaki sendiri.  Dapat kusimpulkan bahwasanya masalalu yang tidak kusukai mendidikku untuk kuat, sabar, dan tau artinya hidup. 30 tahun lebih aku hidup dengan perjalanan yang sudah kujalani, suka dan duka pun telah dilalui. Membuatku cukup memahami arti hidup dengan rasa bersyukur dan bagiku hidup adalah sebuah perjuangan dan pilihan. 

Artinya perjuangan bisa dikatakan dari awal terjadinya manusia pun diawali dengan sebuh perjuanga;, dari di kandungan selama 9 bulan, dilahirkan dengan dipertaruhkan nyawa dan dibesarkan dengan diberikan segala kebutuhan seperti sandang pangan bahkan pendidikan. Begitu juga dengan arti hidup sebuah pilihan bahwa kita berhak atas pilihan dari hidup. Jika kamu berani memilih hidup dan berani atas resikonya yang entah itu harus susah payah dan berdarah-darah, karena memang pada dasarnya “hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan” seperti halnya pilihan terkait masa depan. Sekali pun kita berasal dari keluarga yang tidak ada power untuk menjamin masa depan yang lebih cerah akan tetapi teruslah berjuang,  karena pepatah mengatakan “di mana ada kemauan di situ ada jalan.” Selama kita optimis dengan beriringnya waktu, tanpa disadari pasti bertemu dengan jalan menuju apa yang kita inginkan, sekalipun harus butuh waktu cukup lama. Sejak diri ini paham akan skenario 

Tuhan, hal kecewa akan selalu kusambut dengan rasa syukur tanpa menggerutu kepadaNya.  Ucapan terima kasih selalu kusematkan di setiap doa, berharap semoga tetap bisa optimis karena pasti akan ada kebaikan dibaliknya, sekalipun harus menangis dulu menerimanya. Layaknya setelah hujan badai petir, maka akan terbitlah pelangi yang indah. 

Dear pembaca, sepenggal ceritaku, tetap semangat dan bersyukur dalam menjalani hidup di dunia yang fana ini. Jika lelah dengan apa yang dikejar maka berhentilah sejenak. Namun jangan berhenti berjuang, karena pada dasarnya masa depan yang sesungguhnya ada di tangan kalian – bukan di tangan orang lain. Abaikan apa kata mereka yang menyinyir apa yang kalian lakukan, karena ada pepatah mengatakan “anjing menggonggong, kafilah berlalu.” 

Find out more:

Leave a Reply

Author

tcklearningcentre avatar

Written by

Trending

Discover more from Pangyao

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading