Kost pojok

Fitur Bahasa Indonesia reguler kami bekerja sama dengan TCK Learning Centre untuk Pekerja Migran (Our regular Indonesian feature in collaboration with TCK Learning Centre for Migrant Workers)

Empat wanita berpakaian syar'i sedang menikmati makanan di sebuah restoran, dengan suasana ceria dan kebersamaan. Salah satu wanita, mengenakan jilbab berbunga, sedang mengambil salad dari piring.

Panggil saja saya Timoki. Setelah saya lulus SMP, saya lanjutkan ke SMK berhubung lokasi sekolahku di kabupaten jauh dari rumah. Saya disarankan untuk kost bersama anak uwa yang juga sekolah di SMK yang sama. Untuk menghemat ongkos transportasi dan waktu, saya pun ikut ngekost bersama kakakku itu di kost pojok tingkat. Tempat kost ini paling murah dibandingkan dengan tempat-tempat kost lain di sekitar situ. Sewa per bulannya hanya Rp 10.000,-. Yang punya rumah ini adalah seorang bidan yang orang kaya. Kata beliau, ini rumah daripada tidak ada yang menempati maka dikostkan terutama untuk anak sekolah, dan dikasih harga sangat murah. Kami menempati di ruang di tingkat atas. Di bawah disewakan untuk pembayaran PAM air, dan beberapa ruangnya disewakan juga untuk orang-orang. Awalnya canggung, tapi saya orang tipe yang mudah beradaptasi dan mudah  bergaul jadi tidak begitu mengalami kendala yang signifikan. Lama kelamaan saya pun akrab dengan teman-teman kost karena ternyata kost itu seru – ramai-ramai setiap hari ada teman. Kami ada jadwal bersih-bersih, belanja dan masak. Kita iuran untuk belanja sayur, sedangkan beras bawa dari rumah. Saya pulang tiap hari Sabtu dan datang lagi Senin pagi. Satu tahun berlalu, kakakku anak Uwa pun lulus, dan ada pendatang baru yang ngekost. Pendatang baru itu adalah mba Dewi. Dia  kakak kelas satu tingkat. Dia orangnya easy going dan kocak. Semenjak ada dia, kost pun tambah ramai dan seru – kami pun semakin akrab. Mba Dewi ini paling jago kalau urusan jadi makcomblang dan palak memalak. Biasanya di sore hari kalau ada cowo yang datang ke kost nyari saya, ini kesempatan bagi dia untuk malak itu cowok. Biasanya di hari Senin dan Kamis saya puasa, jadi selepas saya kerjakan PR biasanya habis ashar saya tidur menunggu buka. Di sore itu sewaktu saya tidur, Jeffry (cowok yang suka sama saya) datang ke kost mencari saya.  Nah, mba Dewi ini kan tidak tidur, jadi turunlah dia ke bawah karena di tempat kost kami tidak boleh memasukan cowok ke ruang kami. Jadi kalau pun ada cowok, kami hanya ketemu di luar. Mba Dewi pun mengobrol dengan Jeffry.

Mba Dewi pun ke angkring dengan Jeffry. Setelah membelikan lauk, Jefrry pulang. Mba Dewi naik sambil teriak-teriak, “Timoki… bangunnnnnnnnnnnnn! Coba, apa yang saya bawa ini loh… Kamu dibelikan lauk sama Yayang Jefrry wkkkkkkkkk…” Sambil dia ngakak, “Dia mau ngapel, saya palak wkkkkkkkkkkkkk… Saya bilang kamu lagi puasa lemes tidur gak bisa turun.  Jadi ya sudah, saya palak!” Suara Mba Dewi memang nyaring dan keras kalau ngomong, menjadikan suasana di ruangan semakin riuh.

“Haduh… Mba Dewi ini kok malah saya jadi umpan si…” 

“Sudah kamu tenang aja… ini rezeki kita makan enak hari ini! Besok lagi kalau yang datang nyari kamu, jangan turun. Saya yang turun wkkkkkkkkkkkkkkk… dan malak dia.”

 Dan akhirnya satu kost ketawa semua dan memang kalau ada cowok datang nyari saya,  pasti saya dilarang turun dulu. Dipalak dulu sama Mba Dewi. Katanya, “Enak aja mau ngapel, kok gak mau modal wkkkkkkkkkkkkk…” Tapi seru punya teman seperti Mba Dewi. Kami pun makan malam bersama sambil ketawa ngakak dengan tingkah Mba Dewi yang selalu ada aja idenya kalau ada cowok datang. 

Find out more:

Leave a Reply

Author

tcklearningcentre avatar

Written by

Trending

Discover more from Pangyao

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading