
Written by S-Tomiko, Edited by Lie Fhung
Panggil saja saya Timoki. Setelah saya lulus SMP, saya lanjutkan ke SMK berhubung lokasi sekolahku di kabupaten jauh dari rumah. Saya disarankan untuk kost bersama anak uwa yang juga sekolah di SMK yang sama. Untuk menghemat ongkos transportasi dan waktu, saya pun ikut ngekost bersama kakakku itu di kost pojok tingkat. Tempat kost ini paling murah dibandingkan dengan tempat-tempat kost lain di sekitar situ. Sewa per bulannya hanya Rp 10.000,-. Yang punya rumah ini adalah seorang bidan yang orang kaya. Kata beliau, ini rumah daripada tidak ada yang menempati maka dikostkan terutama untuk anak sekolah, dan dikasih harga sangat murah. Kami menempati di ruang di tingkat atas. Di bawah disewakan untuk pembayaran PAM air, dan beberapa ruangnya disewakan juga untuk orang-orang. Awalnya canggung, tapi saya orang tipe yang mudah beradaptasi dan mudah bergaul jadi tidak begitu mengalami kendala yang signifikan. Lama kelamaan saya pun akrab dengan teman-teman kost karena ternyata kost itu seru – ramai-ramai setiap hari ada teman. Kami ada jadwal bersih-bersih, belanja dan masak. Kita iuran untuk belanja sayur, sedangkan beras bawa dari rumah. Saya pulang tiap hari Sabtu dan datang lagi Senin pagi. Satu tahun berlalu, kakakku anak Uwa pun lulus, dan ada pendatang baru yang ngekost. Pendatang baru itu adalah mba Dewi. Dia kakak kelas satu tingkat. Dia orangnya easy going dan kocak. Semenjak ada dia, kost pun tambah ramai dan seru – kami pun semakin akrab. Mba Dewi ini paling jago kalau urusan jadi makcomblang dan palak memalak. Biasanya di sore hari kalau ada cowo yang datang ke kost nyari saya, ini kesempatan bagi dia untuk malak itu cowok. Biasanya di hari Senin dan Kamis saya puasa, jadi selepas saya kerjakan PR biasanya habis ashar saya tidur menunggu buka. Di sore itu sewaktu saya tidur, Jeffry (cowok yang suka sama saya) datang ke kost mencari saya. Nah, mba Dewi ini kan tidak tidur, jadi turunlah dia ke bawah karena di tempat kost kami tidak boleh memasukan cowok ke ruang kami. Jadi kalau pun ada cowok, kami hanya ketemu di luar. Mba Dewi pun mengobrol dengan Jeffry.
Jeffry: Timoki ada?
Mba Dewi: Ada Jeff, tapi dia lagi tidur. Lemas dia puasa hari ini.
Jeffry: Dia sudah ada lauk belum untuk buka?
Mba Dewi: Belum lah… Kasihan dia kan, Jeff. Puasa lemas, belum ada lauk pulaK kamu beliin dia donk, Jefff – sekalian sama buat kita semua. (tuh kan jiwa malak dia mulai meronta). Tenang Jeff, nanti saya sampaikan ke Timoki bahwa kamu datang dan beliin makanan.
Jeffry: Yuk, ke depan – ke angkring. Kamu mau beli apa buat Timoki dan teman-teman, kamu milih sendiri.
Mba Dewi:Horreee….!
Mba Dewi pun ke angkring dengan Jeffry. Setelah membelikan lauk, Jefrry pulang. Mba Dewi naik sambil teriak-teriak, “Timoki… bangunnnnnnnnnnnnn! Coba, apa yang saya bawa ini loh… Kamu dibelikan lauk sama Yayang Jefrry wkkkkkkkkk…” Sambil dia ngakak, “Dia mau ngapel, saya palak wkkkkkkkkkkkkk… Saya bilang kamu lagi puasa lemes tidur gak bisa turun. Jadi ya sudah, saya palak!” Suara Mba Dewi memang nyaring dan keras kalau ngomong, menjadikan suasana di ruangan semakin riuh.
“Haduh… Mba Dewi ini kok malah saya jadi umpan si…”
“Sudah kamu tenang aja… ini rezeki kita makan enak hari ini! Besok lagi kalau yang datang nyari kamu, jangan turun. Saya yang turun wkkkkkkkkkkkkkkk… dan malak dia.”
Dan akhirnya satu kost ketawa semua dan memang kalau ada cowok datang nyari saya, pasti saya dilarang turun dulu. Dipalak dulu sama Mba Dewi. Katanya, “Enak aja mau ngapel, kok gak mau modal wkkkkkkkkkkkkk…” Tapi seru punya teman seperti Mba Dewi. Kami pun makan malam bersama sambil ketawa ngakak dengan tingkah Mba Dewi yang selalu ada aja idenya kalau ada cowok datang.








Leave a Reply