
Written by Endang Dwi Ernawati, Edited by Lie Fhung
Namaku Sri, Sri Wulandari. Sekarang terjun di dunia fashion merchandising di New York, Aku beserta tim butik kami mengadakan fashion show di Jakarta. Sebelum ke Indonesia aku mencoba mencari Mukidi karena topiknya style Korea yang sekarang lagi ngetrend.
Singkat cerita Mukidi teman sekolahku waktu SMP yang berparas mirip Oppa Korea, akan tetapi kami terpisah dari kelas 3 SMP. Aku meneruskan sekolah di New York, karena ikut papa tugas di sana. Kami sudah 10 tahun tidak jumpa Mukidi. Membuktikan ucapanku 10 tahun yang lalu – ”kamu pantasnya jadi model”, sekarang dia jadi model yang digandrungi banyak wanita dan terkenal di kalangan modeling. Selama ini kami masih berkomunikasi dengan baik. Aku mencoba menghubungi ponselnya tanya kabar dan mengutarakan niatku. Kami pun menentukan jam dan tanggal untuk bertemu.Ya, awal bulan depan Mukidi jadi model di fashion show-ku.
Pada hari saya baru sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta, langsung cari taxi menuju rumahnya Mukidi. Padahal janjiannya besok pagi. Tapi sudah lama tak jumpa ada rasa kangen. Dia agak kaget melihat kehadiranku hari itu. Langsung ku sapa, “Di…M ukidi (teriakku dari seberang jalan). Mukidi yang mau masuk ke mobil pun menoleh ke arahku, dan tak lama kemudian aku berada di depannya.
Mukidi: Sri….
Sri: Hi … Oppa….
Mukidi: Hei namaku tetap kok Mu Ki Di (kamipun berpelukan)
Sri: Oh iya, kamu ada acara hari ini..
Mukidi: Iya Sri, aku ada catwalk di Jakbar. Ayo ikut, habis acara kita dinner yuk (ditariknya tanganku untuk masuk ke mobilnya)
Malam itu kami pun dinner bersama. Sambil pilih menu kami merancang acara fashion show-ku. Tiba tiba datang seorang laki-laki yang letoi menghampiri meja makan kami. “Hi…,” sapanya. Kubalas, “Hi juga…”. Lah. itu orang nyosor saja cium pipi kanan kiri Mukidi, lalu Mukidi memperkenalkan temannya itu. “Sri, ini temanku Yogi”. Kujabat tangannya, “Hi, aku Sri”. Akhirnya kami pun dinner bertiga, dengan pemandangan yang menyayat hati. Mereka tidak segan menunjukkan tingkah laku seperti layaknya orang pacaran. OMG! jeritan hatiku melihat di depan mata – ada apa ini, apa yg terjadi dengan Mukid- ku yang dulu aku kenal. Selesai dinner Mukidi dan Yogi mengantarkanku ke hotelku. Sampai di hotel mereka meninggalkanku begitu saja. Jam 2 dini hari ponselku berdering mengagetkan tidurku, langsung aku angkat tanpa kulihat siapa yang menelpon, “Sri… Sri…. sudah tidur kah??” Suwara Mukidi di sana. Aku pun menjawab dengan suara lirih, “Iya, kamu belum tidur Di?”. “Maaf, Sri…,” Mukidi dengan suara bergetar, “Maaf, tadi apa yang kamu lihat benar adanya… Emm… Yogi itu… “. Aku langsung mencairkan suasana dengan memotong bicaranya, “It’s ok Oppa, don’t worry. Kamu tetap sahabatku, apa pun itu (dengan hati yang ambyar kukatakan itu). Mungkin dia sudah lega mengatakan yang sebenarnya. Inilah pahit manisnya kehidupan yang harus kujalani.
Hari ini hari inti yang menjadi tujuan utama datang ke Indonesia. Sebelum acara dimulai, aku dan tim mengecek ulang, dari atribut busana, sepatu, aksesoris, semuanya sudah siap. Para tamu undangan pelan-pelan memenuhi kursi. Para model dari berbagai negara yang kami libatkan sudah mempersiapkan diri. Kulihat Mukidi bersama asistennya baru saja tiba, tidak ketinggalan si kupret Yogi yang menjadi model juga. Walau dari kejadian semalam aku jadi canggung dengan kehadiran mereka, aku harus tetap menyapa mereka dengan profesional. “Selamat pagi, semuanya! Terimakah atas kerjasamanya.” Di dalam ruangan banyak wartawan yang meliput karena adanya Mukidi yang menjadi sorotan kamera. Acara pun berakhir dan berakhir pula perjumpaan kami. Banyak hal yang aku petik; suatu pelajaran yang kutemui atas kepulanganku ini. Bahwasanya kita harus ikhlas menjalani kehidupan – ikhlas dengan apa yang kita lihat dan kita harus menjalaninya. Sukses sudah acaraku, tapi tidak sukses dengan cintaku. Kamu tetap menyayangiku layaknya seorang sahabat; tidak lebih. Ya, hatiku tetap mengidolakanmu Mukidi Oppa Jawa-ku.








Leave a Reply