Mimpiku

Fitur Bahasa Indonesia reguler kami bekerja sama dengan TCK Learning Centre untuk Pekerja Migran (Our regular Indonesian feature in collaboration with TCK Learning Centre for Migrant Workers)

Seorang wanita mengenakan jilbab, menutup wajahnya dengan tangan di tengah ladang yang luas di bawah langit mendung.

Semuanya sudah berkumpul dan akad nikah akan segera dimulai jam 11 pagi. Tapi, dia belum datang. Yang aku ingat hanya ucapanmu waktu itu “Aku akan datang menepati janjiku: ijab kabul, janji suci di hadapan Allah SWT.”

Kuambil HP-ku, mencoba menghubunginya. Pesan yang kukirim belum dibaca juga – udah telat 10 menit.“Mungkin jalanan macet, jadi dia telat datang.” Tiba-tiba teringat dia yang sangat sederhana, jauh dari kata romantis. Dia sangat memuliakan ibunya, orang yang begitu sayang serta bertanggung jawab dengan orangtua dan keluarganya. Itulah kenapa aku menerima lamarannya, walaupun hanya sebulan mengenalnya.

Saudara dan tetangga yang membantu semua sibuk melayani tamu undangan. Mereka terlihat bahagia,  begitu pun yang aku rasakan, “Alhamdulillah, hari ini cuaca cerah.” Setelah beberapa hari hujan di kotaku, seakan alam semesta ikut merasakan kebahagiaanku.

Sedikit lega aku lihat ada tamu datang, “Arief, adik bungsunya datang…” gumamku. Aku lihat dia berbicara dengan adik alhmarhumah nenek. Sekilas kulihat wajah nenek tampak sedikit panik, dan kerabat menghampiri nenek sambil memberikan air minum. Aku yang penasaran bertanya pada kerabat

yang lewat, tapi mereka tidak menghiraukanku.

Mereka berbisik sambil melihat ke arahku dengan raut muka yang tidak bisa aku jelaskan. Aku mencoba berpikir baik dan percaya Allah akan selalu menjaga dia dan memberikan kebahagiaan untuk kami berdua.

Aku bertanya dalam hati kenapa tiba-tiba semua diam. Hening. Sedikit berteriak, aku pun bertanya, “Ada apa, Nek?!” Adik nenekku menoleh ke arahku tanpa menjawab pertanyaanku. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, mereka berbisik seolah takut kalau aku mendengarnya.

Tetapi ketika Arief mulai menghampiriku, jantungku berdetak sangat cepat; bayangan wajahnya menyelimuti pikiranku.

Arief menghampiriku sambil menunduk dia mengucapkan “Mbak, maafkan aku. Kakak tidak datang karena mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju ke sini. Dia meninggal di tempat. Yang tabah, Mbak. Ini semua sudah takdirNya, ihklaskan.” Kata-kata itu tidak lebih dari sambaran petir di siang hari. Mataku berkaca menahan sesak yang kurasakan. Ada yang sakit di ulu hatiku seperti tidak bisa bernafas, tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. “Mbak harus melanjutkan hidup… Jangan meratapinya, semua hanya titipan di dunia yang fana ini.” 

“Ya Gusti, aku harus bagaimana?” Baru 10 menit yang lalu tempat ini begitu ramai; semua tertawa  penuh kebahagiaan. Sekarang semuanya diam dan sunyi. Semua orang pergi satu per satu. Kulihat Arief berpamitan pergi sambil bersalaman dengan nenek dan kerabat yang lainnya.

Sendiri masih duduk di tempat yang sama di mana aku menunggunya dari pagi, adik almarhumah nenek menghampiriku, “Bangunlah, Nduk. Apa kamu tidak ingin melihatnya untuk terakhir kali? Menangislah, Nduk-  jangan diam seperti ini…” Aku hanya menatapnya tanpa menjawab pertanyaannya.

Inginku menangis dan berteriak, tapi tak bisa – aku hanya diam mencoba memahami apa yang terjadi.

Semua ini sudah tertulis di Lauhul Mahfudz, ketika kita harus ditemukan kemudian dipisahkan oleh maut. Seluruh catatan Allah SWT mengenai takdir dan kejadian yang terjadi di dunia, kita tidak bisa mengubahnya.

Semua orang pergi menjauh. Aku sendiri tertunduk lesu dan diam memikirkan bagaimana aku bisa jalani hari-hariku tanpamu. Aku sudah bahagia membayangkan kita menuju bahtera rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah, di mana setiap pagiku yang kulihat hanya kamu, bagaimana kau membelai rambut dan memelukku.

Apa aku boleh marah ya Allah. Karena ENGKAU mengambil sosok pemimpin dalam hidupku, semua yang kau uji dan kau hadapkan kepadaku saat ini pada akhirnya akan meningkatkan ketaqwaanku untuk menjadi hambaMu.

Aku tau semua orang pada akhirnya pasti akan dipanggil. Mungkin Allah terlalu sayang dia. Ya Allah, berikanlah hambaMu ini ketabahan dan berikanlah tempat terindah untuknya di surgaMu.

Sampai malam tiba aku masih duduk di sini, di lantai tanah rumahku yang kosong seperti hatiku. Tangisku pecah sampai tak bisa bersuara “Ya  Gusti, ampunilah aku.”

“Walau pun aku tak bisa memiliki ragamu, tapi aku bisa memiliki hatimu.”

(mimpi yang aku ingat selalu)

Find out more:

Leave a Reply

Author

tcklearningcentre avatar

Written by

Trending

Discover more from Pangyao

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading