Golden Nonya

Fitur Bahasa Indonesia reguler kami bekerja sama dengan TCK Learning Centre untuk Pekerja Migran (Our regular Indonesian feature in collaboration with TCK Learning Centre for Migrant Workers)

Close-up of a golden decorative woven object with intricate patterns, resting on a soft surface.
Screenshot

Pagi itu seperti biasanya nyonya boss bangun tidur sekitar jam 11-an pagi, di hari sebelumnya beliau memang sudah memberitahu saya bahwa hari ini (Jum’at), beliau akan makan siang bersama temannya. Ketika nyonya boss turun ke bawah dan sedang sarapan, sambil menenteng baju dan rok hasil jahitan saya, saya bertanya pada nyonya boss sebelum beliau keburu pergi. Sebenarnya sih tidak sopan, tapi nyonya boss selalu meladeni saya seperti ke anak perempuannya sendiri.

Saya: “Nyah, kamu ada pita warna seperti warna rok saya ini tidak? Atau ikat pinggang yang warna seperti ini?”

Sebelumnya saya memang sudah bercerita ke nyonya boss bahwa tanggal 19 December 2021 adalah Hari Perayaan Migrant Workers. Learning Centre kami diundang untuk berpartisipasi merayakannya, dan kami pun mempersiapkan berbagai macam pertunjukan seperti fashion show, baca puisi, menyanyi dan menari. Kami hanya ada waktu dua minggu untuk mempersiapkannya. Seperti biasa, bila ada acara di luar, informasinya sangat mendadak.  Berhubung saya yang mengurusi  bagian kegiatan,  sayapun harus mengatur semuanya: latihan fashion show, baca puisi, menyanyi dan menari. Saya juga salah satu murid menjahit, dan fashion show akan dilakukan oleh murid-murid kelas menjahit dari hasil ujiannya masing-masing. Karena hasil ujian saya kurang bagus dan kurang memuaskan saya, saya mau pakai hasil jahitan orang lain yang ada di Centre kami dan saya pun bawa pulang gaun tersebut untuk dicuci. Satu minggu telah lewat, gaun yang telah saya cuci dan setrika saya bawa ke Centre supaya tinggal siap dipakai.  Saya sudah tenang bin relax. Namun satu minggu terakhir tepatnya pada hari Kamis malam tiba-tiba otakku berputar. Saya tidak bisa memakai hasil karya orang lain, ini akan jadi momen yang sangat penting dalam sejarah hidup saya; masa’ saya akan lewatkan begitu saja, pikirku. Akhirnya saya memutuskan tidak jadi pakai gaun yang dari Centre, saya mau perbaiki hasil karya saya sendiri. 

Nyonya boss: “Coba saya cek dulu”. (beliau meninggalkan sarapannya untuk mengurusi permintaan saya, boss naik ke kamarnya di lantai atas). Saya mengikuti di belakang beliau. Tiba di kamarnya, beliau membuka lemari dan laci mengecek semua ikat pinggang dan asesoris yang beliau memiliki, tetapi tidak ada yang cocok. 

Saya ingat beliau punya satu box besar yang berisi pita untuk pengikat bunga dan beliau memang sudah memberitahu saya bahwa kalau butuh, silahkan menggunakannya.

Saya pun bertanya, “Boleh saya lihat di box pita, nyonya boss?”

Nyonya Boss: “Kamu harus bawa ke sini itu baju kamu supaya mudah untuk mencocokkan warnanya!”. Saya pun turun ke lantai bawah mengambil baju saya. Kami melanjutkan mencari-cari dan mencocokkan,  tetapi bingung karena banyak tetapi sepertinya tidak ada yang cocok.

Nyonya boss: “Kamu lihat-lihat dan cek lagi, tapi kamu harus coba itu baju kamu supaya kamu tahu mana yang harus kamu botulin”. 

Saya: “Terima kasih banyak nyonya boss. Mending sekarang kamu sarapan dulu – keburu dingin itu sarapan kamu! Ini saya mau lihat-lihat pitanya dulu”. Setelah nyonya turun untuk sarapan, saya lihat kumpulan pita di dalam box satu persatu. Saya menemukan pita warna golden emas bagus berkilau yang saya pikir wah ini cantik dan matching untuk mempercantik gaun saya. Saya bawa turun dan lapor ke nyonya boss, dan beliau memaksa saya untuk memakai gaun saya, dan saya pun menurut. Kemudian kami berdua beraksi mencoba menempelkan pita tersebut di posisi mana yang bagus. Nyonya tidak malu ataupun jijik dengan saya, kami seperti anak perempuan dengan ibunya yang lagi sibuk untuk persiapan, bahkan nyonya boss sentuh-sentuh ketiakku (ooppss… aduhlah mungkin ketiakku bau, sebenarnya sungkan tetapi nyonya boss biasa saja). Setelah menemukan posisi yang pas, nyonya menyeletuk, “Ini masih ada sisa pitanya,  bisa untuk membuat hiasan di kepala!”, sambil ditaruhnya di kepala saya. Yaaahhh sontak saya menjawab. “That’s a great idea, nyah! You are the best!”. Kami pun tertawa bersama.  Saya juga lagi berpikir untuk hiasan kepala pakai apa karena hiasan kepala punya saya sudah saya paket ke Indonesia. Setelah menemukan ide itu, malamnya saya beraksi mempercantik gaun saya. Saya menemukan ide lain juga untuk memasang pitanya di leher karena bagian lehernya kelihatan jelek banget (oh my god, maklum ini hasil perdana saya). Di pagi harinya, seperti biasa saya laporan ke nyonya boss.

“Nyonya boss, tahu tidak apa yang sudah saya lakukan dengan gaun saya?” Hasil permak gaun saya kasih tunjuk, dan nyonya harus pergi jadi saya sudahi dulu ngobrolnya; kalau tidak kita tidak akan selesai ngobrol seharian. Yah sangat menyenangkan punya boss yang friendly dan terbuka dengan kita. Saya sangat bersyukur dan terharu, baru kali mempunyai nyonya boss serasa ibu sendiri, saya merasakan kenyamanan bekerja di majikan ini. 

Find out more:

Leave a Reply

Author

tcklearningcentre avatar

Written by

Trending

Discover more from Pangyao

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading